Total Tayangan Halaman

Jumat, 11 Oktober 2013

Shania Ingin Rena Kembali



Shania Ingin Rena Kembali
      Di jalan pulang sekolah,berlari aku menjauh dari sahabat ku,Rena..aku ngambek padanya karena dia sudah menjatuhkan handphone ku. “Shania,aku minta maaf. Aku gak sengaja menjatuhkan handphone mu” teriak Rena sambil terus mengejarku di pinggir jalan raya, aku tidak menghiraukan permohonan Rena,aku terus berlari menuju rumahku dan menjauh dari Rena. “Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau kamu masih marah sama aku Shan” ucap Rena, “ah sudah kamu pulang aja sana !” bentakku pada Rena, aku menyebrangi lampu merah diikuti Rena yg masih mengejarku . *tiiinnn tiiinnnn….* suara klakson mobil membuyarkan jalanku “Shaniaaaa awaaass…!!!” teriak Rena yg langsung mendorongku ke pinggir jalan,samar-samar aku melihat kerumunan orang didepanku dan akhirnya aku pingsan.
***
         “Shan..bangun nak” sedikit aku mendengar suara lembut yang membangunkan aku, aku membuka mata dan melihat sekelilingku “syukurlah kamu sadar juga akhirnya” kata Ayahku langsung memeluk ku. Di belakang Ayah dan Mama ada 2 orangtua yg aku kenali, orangtua Rena terlihat sedih. “Mah..Rena mana?” tanyaku pada mamaku, tapi beliau hanya diam saja sambil memeluk ku, “ada yang tidak beres” pikirku. “Sudahlah nak,relakan saja Rena” kata mama nya Rena sambil terisak tangis, “apa? Apa maksud kalian? Nggak mungkin ! Iya kan Mah,Pah.. Rena masih ada kan di suatu ruangan rumahsakit ini? Jawab Pah,Mah,Tante !!” kata ku tidak percaya. Aku langsung turun dari ranjang,dan berusaha berlari keluar ruangan mencari Rena meskipun kepala ku masih terasa berat sekali. “Shania sudahlah nak,dia sudah tiada” kata Ayahku yang menarik dan memeluk ku menahan aku yang berusaha keluar. “Nggak mungkin !!” ucapku dalam tangis sambil memukul-mukul dada ayahku, “Shania,udah ya kata Ayah mu benar” kata Papa nya Rena, aku menangis semakin menjadi-jadi.
***
         Satu bulan sudah berlalu,nilai ku disekolah semakin menurun. Aku sering tidak masuk sekolah karena sakit-sakitan. Lamunan akan ingatanku terbuyar saat Mama masuk kamarku, “Shania,ayo dimakan makanan nya nanti kamu tambah sakit” kata mama ku memaksa , “aku mau makan kalo disuapin sama Rena ma” jawabku lirih. Mama terlihat sedih merindukan sosok Shania yang dulu,yang ceria selalu tersenyum,sekarang keadaan berbanding terbalik. Dalam lamunan,aku mengingat kenangan ku dulu bersama Rena.. Rena selalu mengalah padaku,dia selalu mengingatkan ku kalo ada pr sekolah. Hari-hariku berteman dengan berbagai macam obat. “Shan.. ada temen kamu tuh di depan” kata Mama membuyarkan lamunanku, “Suruh pulang aja mah,Shania lagi gamau ketemu siapa-siapa” kata ku, “Shania,gak boleh gitu nak” nasehat mama ku, aku hanya diam.
***
       Sekitar 3 bulan sudah aku masih belum percaya kalau Rena sudah tiada, di kelas aku tiba-tiba teringat teriakan Rena waktu aku ngambek sama dia. Rena nggak akan maafin dirinya sendiri kalo aku masih marah, aku merasa bersalah sangat bersalah kenapa dulu nggak maafin Rena, aku egois ! “Maafin Shania Ren.. Shania udah buat kamu gini,seandainya waktu itu aku maafin kamu pasti kamu masih ada. Aku egois Ren,maafin aku” ucapku dalam hati,tidak terasa tertitik air mata di pipiku.
          “Pah,Shania kok belum pulang ya?” tanya mamaku, “gak tau mah,coba kita cari dulu” jawab ayahku. Mereka mencariku kemana-mana,kerumah teman2ku,ke sekolah.. Aku berjalan sendiri  tertunduk di pinggir jalan,ditengah hujan bajuku sudah basah kuyup oleh hujan,siapa pun yang melihat pasti merasakan iba karenaku. Aku melirik kearah lampu merah,aku berjalan cepat menuju penyebrangan. “Shaniaaaa… !!!” terdengar teriakan yang seperti kukenal suaranya, “Ayah” kata ku,aku mempercepat langkahku. *tiiiinnnnn…….* klakson mobil kudengar,aku menghentikan langkahku dan memejamkan mata. “Woy kamu cari mati ya !” bentak sopir mobil itu membentak ku dan langsung melanjutkan jalan mobilnya. ‘’Shania apa-apaan kamu?’’ kata ayah menarikku ke trotoar. “Shania mau nyusul Rena Pah” jawabku tertunduk, Mama ku pingsan. “Mamaaa…bangun maa” kataku sambil menangis di pinggir ranjang mama ku terbaring. “Hai Shania,kamu gak apa-apa kan?” jawab Mamaku sambil mengelus kepalaku,aku memeluk mama. “Ma..maafin Shania ma” kata ku, “Iya Shan,kamu gak perlu nyusul Rena. Kamu cukup mendoakannya nak,kematian Rena sudah takdir” kata Mama.
***
                 Sepulang sekolah aku berencana untuk mengunjungi pusara Rena.
“Ah akhirnya pulang juga” kata ku senang. Aku berlari menuju pemakaman Rena yang tidak jauh dari sekolahku. “Halo Rena..Apa kabar? Selamat ulang tahun ya,semoga kamu bahagia disana. Maafin Shania ya selama ini bukannya doain kamu,malah nangis terus. Oh iya aku maafin kamu kok karena handphone itu,hehe tidak apa-apa” kata ku sambil menabur bunga di pusaranya dan mendoakan nya. “Rena,kamu tiup ya lilin nya. Sesudah aku nyanyi,nanti kita tiup sama-sama ya” sambungku mengambil sebuah cupcake dan menyalakan lilin diatasnya..”Happy birthday to you,happy birthday to you. Happy birthday happy birthday, happy birthday Rena” aku bernyanyi untuk Rena. “Ayo nak kita pulang” kata Mama mengagetkanku, “Shania lagi ngerayain ulangtahun Rena mah. Kasian Rena ngerayain sendiri” kata ku bersikeras, Mama terlihat sedih. Tiba-tiba Ayah merangkul aku dari belakang dan menarikku menuju mobil, cupcake yg tadi ku genggam terlepas dan jatuh. “Papaa..lepasin Shania” pintaku,tapi Ayah tidak menghiraukan permintaanku. Aku semakin berusaha melepaskan diri hingga akhirnya aku terlepas dari pelukan ayah. “Shania bisa jalan sendiri kok” ucapku cuek. Sebelum aku masuk mobil, aku merasakan hembusan angin lembut menyentuh pipi ku. Aku seakan merasa,ada sosok Rena disampingku “terima kasih”.. aku tersenyum dan menjawab “sama-sama” jawabku. Aku masuk mobil,dan mengingat semua. Aku sadar kalau kematian Rena memang sudah takdirnya,sudah waktunya ajal menjemputnya. Aku menoleh kearah pusara Rena,”cupcake nya diatas makam Rena,pasti Rena senang” batinku ,aku tersenyum haru.
***
      Kehidupanku kembali seperti biasanya,aku kembali ceria. “Shania,ayo berangkat” kata ayahku, “ayo pah,ntar Shania telat. Hehe” jawabku. Disekolah,nilai ku kembali bagus seperti dulu bukan kemarin. Hampir setiap hari aku berkunjung ke makam Rena dan bercerita apapun sama Rena. Kedua orangtua Rena memilih untuk kembali ke Jepang karena urusan pekerjaan. “Halo Shania,aku baik-saja. Apa kabar?” aku mendengar bisikan itu,aku menoleh kebelakang namun tidak ada siapa-siapa. “Hai Rena,aku baik juga” jawabku dalam hati dan tersenyum. Sekarang Rena sudah bisa pergi dengan tenang